Tuesday, August 23, 2011

thought of friendship

Hai..
Baru-baru ini saya ditanyain seseorang mengenai suatu hal yang jawabannya ga habis-habisnya saya pikirin sepanjang perjalanan dari kantor ke rumah (fyi, it took 1.5 hours of driving), dan hampir sepanjang malem sampai saya ke distract nonton ovj.. Pertanyaanya cukup simple.. "siapa sih sahabat lo nad?" Biasanya, dengan lantang saya akan menyebutkan beberapa nama yang menurut saya cukup dekat.. deket banget bahkan, sampai hampir semua tentang saya mereka tahu. Saya ada masalah apa saya pasti cerita sama mereka, walaupun biasanya cerita-cerita dilematis tentang percintaan, tapi saya cerita dan mereka otomatis memberikan masukan-masukan yang menurut saya positif. Ya mereka sahabat saya. Tapi pertanyaan selanjutnya adalah "yakin?", ketika ditanya begini saya terdiam. Yakinkah saya?. Terus terang, saya bukan orang yang bisa santai ketemu orang baru, dan bisa ceret cerita apa saja.. saya orangnya penuh ke jaim an. Hanya kepada orang-orang yang sudah saya anggap dekat dan bisa menerima saya apa adanya saya bisa cuek cerita apa saja, bertingkah apa saja, menunjukan kebodohan-kebodohan saya, menunjukan ketidaktahuan saya, ketawa lepas, jungkir balik dan hal-hal semacam itu. Bahkan sama orang tertentu yang saya anggap sahabat saya kadang-kadang saya masih tidak bisa santai. Kecanggungan saya membuat saya tidak pernah nyaman untuk berdua dengan orang lain, harus ada orang ketiga untuk menghindari awkward moment. Dan hanya beberapa orang saja yang saya bisa nyaman walau hanya berdua (termasuk pacar saya ya..)


Lalu apa yang membuat saya bingung dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai sahabat ini? saya bingung, karena apakah yang saya rasakan sama dengan yang mereka rasakan? apakah mereka yang saya anggap adalah sahabat saya juga menganggap saya sahabat dari mereka? betul kami rutin berkumpul, betul kami punya grup di massenger smartphone kami, foto-foto dengan mereka yang mendominasi di seluruh jejaring sosial. tapi apa itu yang namanya persahabatan? Apa saya masih sahabat mereka kalo saya tidak ikut itu semua.. Pertanyaan ultimate nya adalah: Apa mereka akan merasa kehilangan kalau saya menghilang?

Kemudian, saya menguatkan hati saya, dan menanamkan kalau saya yakin mereka menyayangi saya dan tentu saja menganggap saya sahabat. Tapi, kembali saya berpikir, apa mereka menganggap saya sahabat mereka juga? ketika mereka tidak memiliki masalah dalam berkomunikasi dengan orang lain seperti saya, pastilah mereka punya lebih banyak teman dan kandidat-kandidat sahabat. Apa mereka tetap menganggap saya sahabat jika intensitas komunikasi dengan kandidat-kandidat sahabat lebih sering dengan saya? ketakutan-ketakutan akan kehilangan teman terus mengusik saya. hahh.. kenapa saya jadi mellow-mellow norak begini ya..  truth be said saya orang yang ga pernah masalah untuk sendirian. kemana-mana sendirian saya tidak pernah masalah. tugas-tugas saya kerjakan sendirian. Dan ketika saya mulai tidak nyaman, saya pulang. save and sound. selesai. the end. fin.

Sebenernya mau mengarah kemana sih babbling saya kali ini? hmm.. i dont even know. perlahan-lahan saya merasa menjauh dari beberapa orang sahabat saya, dan mereka lebih nyaman dengan orang-orang baru. Tapi saya tahu sih, people move on. they are move on. I move on. saya yang kadang kesulitan di tempat yang baru juga menemui orang-orang baru. calon-calon sahabat baru.. tapi saya tahu kalo saya haru belajar banyak untuk mengubah kecenderungan saya yang canggung di lingkungan baru, dan saya harus tetap keep in touch dengan teman-teman lama saya, bahwa bagaimanapun saya harus menyesuaikan diri. keep with the old, struggle with the new.


ngemeng apa sih gue..
toodles, xxo.


No comments:

Post a Comment

Disclaimer: I don't own any pictures on this site unless otherwise stated. I get most of them from miscellaneous sites. if it yours and you want it down, do tell.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...