Funfact #1 bagi saya toffee nut latte adalah minuman mahal paling kampung yang paling enak.
Sendiri duduk di salah satu pojok coffee shop (yeah.. starbucks) bukan merupakan hobi atau rutinitas saya, tapi sebagai
loner sejati, saya menikmati aktivitas saya yang satu ini. Aktivitas yang semakin sering saya lakukan dalam rangka
starbucks christmas tradition untuk mengumpulkan sticker sampai 25 sticker untuk mendapatkan
Planner 2011. (Okay i know, this is way too geek).
Sebenarnya saya berada di tempat ini saat ini karena saya merasa otak saya sedang tidak mampu diajak multitasking, dimana saya harus menyetir, mengambil keputusan teramat besar, browsing di internet, dan berbicara dengan orangtua saya di telfon. Yaa, siapapun juga saya rasa tidak mampu. Jadi, saya pun belok ke starbucks terdekat untuk melakukan semua yang harus saya lakukan. so here i am, with my favorite bev, and sit nicely in the corner,.
Saya mulai meminum minuman kesayangan saya ketika saya membuka laptop saya, online, dan mulai menghubungi orang tua saya. Ya, saya sedang berada dalam posisi yang sulit, yang membutuhkan pertimbangan-pertimbangan lain di luar diri saya. Kalut.
Saya meminum kembali minuman dingin dihadapan saya.. Jadi maka dari itu saya tadi memutuskan untuk melipir ke starbucks untuk
berpikir mengenai keputusan yang akan saya ambil, melakukan
perbandingan pros dan cons, menelfon orang tua saya,
browsing untuk melakukan perbandingan, dll dll hingga akhirnya saya
memutuskan, adalah hal yang terlalu gegabah untuk mengikatkan diri saya dalam suatu perjanjian jual beli. Ya, saya mundur. Bye bye investasi.
Minum saya belum setengah saya minum ketika saya berpikir bahwa ternyata, manusia itu memang harus memikirkan masak-masak segala keputusan yang akan dia ambil. Memang kadang-kadang dalam mengambil suatu keputusan manusia butuh tutup mata, tutup telinga, secuil kenekatan dan langkah tegak yang spontan. Dan memang segala keputusan yang manusia ambil, baik itu keputusan kecil yang sepertinya remeh temeh sesimpel belok ke kanan atau pun kekiri (sesimpel memutuskan untuk melipir dan berfikir seperti sekarang), maupun keputusan besar yang sifatnya lifetime, setiap keputusan manusia apapun itu sama-sama dapat mengubah hidup seorang maupun banyak manusia. Sebenarnya saya tidak pernah mengkategorikan diri saya sebagai manusia spontan, saya juga bukan orang yang selalu memikirkan apa yang saya lakukan. Biasanya, dalam mengambil suatu keputusan apabila itu mendesak, saya akan mengambil keputusan dalam keadaan gegabah, panik, dan tanpa berpikir panjang. Seperti halnya hari ini dimana saya berada dalam keadaan mendesak yang hampir membuat saya mengambil keputusan jangka panjang.. to lease an apartment! Seperti yang saya sudah ungkit diatas, saya yakin membeli sebuah apartment bukan merupakan hal yang salah, dimana hal tersebut merupakan investasi jangka panjang yang sebagai rakyat golongan menengah, kita harus menjadi golongan yang kuat dan mampu dengan memikirkan investasi jangka panjang, dan salah satu bentuknya adalah harus mampu memiliki tempat tinggal sendiri (well yeah, saya sedang membaca Ligwina Hananto's book Untuk Indonesia yang Kuat: 100 Cara untuk Tidak Miskin, and this book pretty much fascinate me in many ways). Tetapi, tanpa berpikir panjang, hampir saja saya mengikat beli sebuah apartment di bilangan kebayoran lama, tanpa berpikir mengenai cicilan, bunga, lokasi, lantai, view, dll dll. terdengar horor bukan? thus, after contemplating everything: I canceled the deal.
Minum saya sudah hampir habis ketika saya menyadari bahwa saya tidak menyesal dalam keputusan yang saya ambil sekarang ini. Saya sudah melipir untuk berpikir (i love it when it rhymes) dengan segala pertimbangan-pertimbangan yang ada. Selain itu karena memang saya akui ada hal yang janggal dalam diri saya apabila saya terburu-buru mengambil keputusan seperti tadi. Ya, mungkin yang dibutuhkan dalam mengambil keputusan hanyalah kemantapan hati. Baik keputusan besar yang berarti di kehidupan kita, keputusan kecil yang remeh temeh, keputusan spontan, maupun keputusan yang penuh dengan pertimbangan, satu hal yang paling penting dan menjadi panduan kita dalam melangkah hanya lah kemantapan hati, membuat segala rintangan seakan tak berarti (again, I love it when it rhymes :) )