Matthew 26:39
He went on a little farther and bowed with his face to the ground, praying, “My Father! If it is possible, let this cup of suffering be taken away from me. Yet I want your will to be done, not mine.”
Beberapa minggu ini, dan sepertinya sampai beberapa hari kedepan, perasaan saya pasti bener-bener tidak karuan, mood pun mau tidak mau jadi terpengaruh dan jadi super sensitif. Saya rasa ini ada hubungannya dengan proses seleksi beasiswa ADS / AAS yang sedang saya jalani. Detik-detik menunggu pengumuman yang tidak pasti kapan, menunggu kiriman email yang entah isinya diterima atau tidak, dan hal-hal seperti tersebut sebelumnya benar-benar menyiksa! Ini yang benar-benar dinamakan waiting in vain.
Ya, saya memang meng-submit diri saya untuk mengikuti seleksi penerimaan beasiswa Australia Award, tepat pada tanggal 18 juli 2013, yang merupakan hari terakhir pendaftaran beasiswa AAS. Tanpa berharap banyak, dan tanpa memberitahukan ke keluarga maupun ke teman-teman saya kalau saya sedang apply beasiswa. Alasannya? Jujur, karena saya takut gagal. Dan seiring berjalannya waktu, saya tidak berharap terlalu banyak dengan beasiswa ini, apalagi dulu teman-teman IALF sering cerita kalau AAS memang lebih mudah, tapi saingannya sangat banyak.
Bulan pun berganti dan tanpa adanya pengumuman apa-apa dari AAS, saya pun lupa sama sekali dengan aplikasi saya. Sampai pada akhirnya di pertengahan bulan Desember tetangga datang mengantarkan surat dari panitia AAS yang datang dan dititip pada beliau karena pada saat itu rumah kosong. Dengan tangan gemetar saya buka amplop putih itu, dan ternyata isinya menyatakan kalau saya masuk dalam Shortlist, disertai dengan jadwal Tes IELTS dan wawancara JST pada bulan Januari. Puji dan syukur saya panjatkan. Karena masuk shortlist membuka jalan saya selangkah lebih dekat dengan mimpi saya. (dan denger-denger, bagian tersulit untuk mendapat beasiswa AAS ini adalah justru tahap ini).
Akhirnya memasuki tahun 2014, saya mulai mempersiapkan diri saya menghadapi tes IELTS tanggal 9 dan 11 Januari dan interview JST pada 16 Januari. Fokus saya pun lebih ke IELTS karena menurut saya yang harus dipelajari banyak: reading, writing, speaking, dan listening. Banyak sekali cobaan dari mulai mencoba belajar sampai pada hari H tes. Seperti iblis lagi mencoba mengusik emosi dan mood saya menghadapi tes. Dan memang saya sempat down pada hari H, tapi saya mencoba mengatasi mood saya dan menyelesaikan tes yang ada dihadapan saya.
Seminggu kemudian, pada tanggal 16 Januari 2014, saya menghadapi interview JST. Cobaan kembali datang karena minggu itu adalah dimana sedang diadakan Rapat Kerja Nasional BPN 2014 di Ancol dan saya menjadi panitianya. Malam sebelum interview, saya tidak baca apa-apa, saya bahkan tidak tahu apa yang harus saya persiapkan, sehingga akhirnya pada saat interview, menurut saya kurang memuaskan. bahasa inggris yang digunakan seadanya, dan saya sempat lupa universitas yang saya ingini. hadeuh.
Nah, baru-baru ini hasil tes IELTSkeluar dan ternyata saya masih mendapat band 7 (yeay!) walaupun terdapat band 5 pada materi writing. tapi setidaknya itu masih masuk kategori lolos IELTS. jadi sekarang saya tinggal bergantung pada hasil interview JST, apakah saya berhasil memikat kedua interviewer saya atau tidak.
Sekarang setiap kali saat mendengar maupun melihat apapun yang berbau Australia, hati saya pasti sedikit ketar-ketir dan pikiran saya kembali ke aplikasi beasiswa saya. Saya tidak pernah menginginkan sesuatu sampai seperti ini. Banyak hal yang saya rela korbankan untuk keinginan saya yang satu ini, tapi saya tahu kalau saya harus berserah dan mengembalikan ini kepada Tuhan. Karena sebagai manusia, segala usaha yang saya harus lakukan sudah saya lakukan, dan saya tidak dapat melakukan apa-apa lagi selain berdoa dan menunggu pengumuman yang sepertinya akan keluar dalam minggu-minggu ini.
So.., Your will be done.