Ingatkah kalian rasanya twitter pada awal-awal kemunculannya? Entah kenapa, saya merasa twitter pada jaman itu rasanya beda sekali dengan twitter masa kini.. Saya tidak tau apa saya yang berubah mengikuti atau fungsi twitter telah berkembang menjadi social network yang sifatnya komunikasi 2 arah.. Rasanya, dulu saya mengupdate status twitter saya karna saya ingin mengupdate, ingin bermonolog. Entah kenapa, sekarang monolog ini sering sekali disalahgunakan menjadi kode, atau umpan, yang sifatnya memancing feedback dari para follower. Saya tidak memungkiri bahwa kadang pun saya menjadikannya alat komunikasi yang terbukti memang efektif. Namun pada saat seperti ini dikala saya butuh twitter sebagai media mencurahkan perasaan saya, sebagai mini blog, tanpa ada niat memancing reaksi orang sekitar, twitter sudah tidak dapat memfasilitasi itu..
Sering kali, monolog saya ini salah sasaran dan menciptakan kesalahpahaman. Saya bilang 'saya menyerah', kedua kakak saya pun segera menghubungi saya dan bertanya kabar dan ada apa dengan saya. Padahal tweet tadi saya update untuk menggambarkan perasaan saya yang semata-mata menyerah dengan kondisi percintaan, maklum wanita muda single perkasa.. Lalu kemudian, ketika saya mentweet hal yang menyangkut keluarga, ada saja pihak-pihak yang merasa tersentil bahwa itu mengenai dirinya. Salaaaaaahhh.
Saya merindukan menulis baik blog atau mini blog macam twitter ini sebagai tong sampah saya tempat saya berkeluh kesah. Ya saya memang senang kalau ada pembaca setia, atau pun pembaca biasa yang kebetulan mampir, tapi bukan itu yang saya cari. Begitu pun dengan twitter.. Saya memang terkadang senang menebar #umpan dan #kode, namun kali ini disaat-saat saya sedang mental breakdown seperti ini, saya hanya ingin bermonolog tanpa membuat orang-orang yang saya sayangi bertanya-
tanya atau lebih parah lagi: khawatir.
Thursday, October 27, 2011
Saturday, October 22, 2011
True Affection
Saya adalah orang yang selalu mencari lagu yang tepat untuk saat yang tepat. Saat saya sedang jatuh cinta, playlist saya yang berjudul "lovesick" tidak pernah berhenti berputar. Begitu pun saat saya sedang sangat bersemangat berapi-api, maka "dont stop me now" dari Queen pun membahana baik di rumah maupun sekedar menemani perjalanan saya di mobil. Itulah mengapa saat mendengarkan suatu lagu, saya selalu mencermati liriknya, mendengarkan dengan seksama, dan menganalisa makna di balik lagu tersebut, bukan hanya sekedar mendengarkan lagu tersebut untuk memperoleh moodnya apakah itu senang atau sedih. Saya akan mengkotak-kotak kan suatu lagu bukan berdasarkan genre-nya, tapi berdasarkan makna dan mood yang dapat saya peroleh dari lagu tersebut.
Namun ada saat dimana saya mendengarkan suatu lagu dan saya menganalisa lirik dan makna di balik lagu tersebut, namun saya tetap tidak memahami pesan apa yang tersirat dari lagu tersebut. Sampai saat dimana saya mengalami suatu masalah dan secara kebetulan lagu tersebut berputar dan Dang! dan saya pun mengerti maksudnya, like, man i really got it. Karena lagu tersebut berhasil menggambarkan secara sempurna situasi yang sedang saya alami, dan sebaliknya, situasi yang saya alami menjelaskan secara gamblang makna dari lagu tersebut. It happened to me before, and it hit me again now.
Lagu pertama yang selalu membuat saya bertanya-tanya apa maksud dibaliknya adalah "Ordinary people" dari John Legend. Mungkin seluruh dunia tau pesan apa dibalik lagu ini, tapi tidak saya. Saya tidak pernah tau sebanyak apapun saya memutar lagu ini, sampai di saat saya sedang ada masalah dengan pacar saya pada saat itu. Dan ini dia lagu yang tepat. Well, kira-kira begini penggalan-penggalan liriknya:
Girl im in love with youLagu ini jadi lagu yang begitu mudah dipahami. Bahwa betapa dua orang yang sedang jatuh cinta dan melewati fase honeymoon dan kemudian berada di ujung dari hubungan mereka. Bahwa bagaimana mereka harus menyikapi hubungan yang istilah kekiniannya adalah "udah mulai garing" and get too comfortable at each other so fighting and arguing at each other is inevitable.
This ain't the honeymoonRight in the thick of love
Past the infatuation phase
At times we get sick of love
It seems like we argue everyday
...This ain't a movie no
No fairy tale conclusion ya'll
It gets more confusing everyday
Sometimes it's heaven sent
Then we head back to hell again
We kiss then we make up on the way...Maybe we'll live and learn
Maybe we'll crash and burn
Maybe you'll stay, maybe you'll leave,
maybe you'll return
Maybe another fight
Maybe we won't survive
But maybe we'll grow
We never know baby youuuu and I
But well, thats an old stuff. what I'm trying to say now is.. saya sedang mengalami memaknai lagu yang selama ini saya tidak memahami maksud dibalik lirik-liriknya, untuk yang kedua kalinya. Lagu berikutnya adalah "True Affection" by. The Blow. Ini merupakan lagu favorit saya yang selalu saya putar kapan pun di mana pun sampai saya bosan, tanpa saya bisa mengartikan maksud dari lagu ini. Beginilah lirik lagu oleh duo Khaela Maricich and Jona Bechtolt dari album Paper Television:
I was out of your league
And you were 20,000 underneath the sea
Waiving affections
You were out of my league
At a distance that I didn't wanna see
Down to the bottom
I wanted a junction and often there was one
You'd surface face first and we'd share our thought bubbles
And I still believe in the phrases that we breathed
But I know the distance isn't fair to cross
I was out of your league
And you were 20,000 underneath the sea
Waiving affections
You were out of my league
At a distance that I didn't wanna see
Wanted you nearer
Your depths made a pressure that punctured my works
and all your fluids couldn't tolerate the force of my thirst
I love the place where we shared our tiny grace
But just because it's real don't mean it's gonna work
And true affection floats
True affections sinks like a stone
I never felt so close
I never felt so all alone
See, this song is not an easy one. Butuh waktu cukup lama bagi saya untuk akhirnya memahami lagu ini setidaknya dengan interpretasi saya sendiri. Salah satu hal yang sangat menarik dari musik adalah memberikan kesempatan kepada pendengarnya untuk menginterpretasikan secara bebas makna dari lagu tersebut. Dan bagi saya, makna dari lagu True Affection ini adalah mengenai laki-laki dan perempuan yang berasal dari dua dunia yang berbeda dan entah bagaimana cara nya, dengan mengesampingkan perbedaan mereka, mereka seolah made for each other. Mereka begitu cocok dan 'nyambung', namun disaat terdapat kemungkinan untuk bertemu dan menjalin suatu hal yang lebih serius, terdapat banyak hal yang menghalangi mereka selain dari 'perbedaan' yang mereka hadapi tersebut. Sehingga akhirnya salah satu pihak pun menyerah, mengalah, dan mengesampingkan perasaan cintanya dan meninggalkan suatu hubungan ini tanpa mengalami suatu klimaks. Finished just before it even start.
Sebenarnya post ini hanya untuk memfasilitasi curahan hati saya. Ya ya, saya tau saya harus sabar, saya tau saya harus mengalah, saya tau saya harus menyerah. Setidaknya, i can keep in mind that what we're having was real.
But then again, just because it's real don't mean it's gonna work
*mewek lagi*
Sunday, September 25, 2011
Asli atau Palsu? You decide!
selamat siang..
Di siang kali ini, saya sedang asyik browsing-browsing toko-toko online di facebook.. dan di saat saya yang kebetulan saat ini sedang tergila-gila dengan Lindy Bag from Hermes, mata saya terpaku ke salah satu online shopping yang sudah menjadi teman saya di facebook. Di antara albumnya yang semua nya merek-merek kece, ada satu album yang berjudul Hermes.. Penasaran pengen lihat koleksinya, saya pun mengklik album tersebut dan mata saya terfokus melihat satu persatu jenis-jenis tasnya dan ADA. ADA LINDY BAG NYA! Hmmm.. harga cukup miring.. tapi yang menjadi masalah, barang-barang yang dia punya semua nya kw. alias palsu. alias tidak asli.. saya ngerti sih, kalau asli pasti sudah puluhan alias digit nya banyak sekali. terus terang saya tidak sanggup. lebih baik mundur teratur.. te..ra..tur..
Lalu saya menjadi bertanya-tanya, tas sebegitu mahal harganya, kok bisa saya lihat bertebaran yah orang di mall memakainya.. apa mereka semua anak-anak konnglomerat semua? atau.. itu palsu semua?? either way mengerikan.. ya ga sih.. apa merupakan hal yang lumrah untuk membeli barang-barang kw? Saya takut lho.. Yang saya punya dilemari saya kelasnya memang zara, topshop, marks&spencer, gap, dan semacamnya.. ibarat kata: butik-butik lantai 2. Kalau butik-butik lantai dasar.. hahhh belum mampu. Tapi, toh saya tidak memaksakan diri untuk memiliki apa yang saya belum mampu. saya sabar, suatu saat saya pasti bisa.. dan itu salah satu goal saya. mungkin sepertinya shallow, tapi goal yang sepertinya shallow ini membutuhkan goal-goal lain yang lebih nyata dan kongkrit. Berat tauuu..
Kembali ke keheranan saya akan banyaknya anak-anak dari kalangan remaja ke atas yang menggunakan barang-barang khususnya tas yang harganya mahadahsyat ini, sebenarnya menunjukan apa sih? membuktikan kemajuan daya beli masyarakat Indonesia? iya kalau asli. Memang jaman sekarang anak belasan tahun sekarang sudah dikasih jinjingan yang lebih mahal dari isinya. Di salah satu majalah yang saya baca waktu saya treatment di salon, saya ingat betul kalo anak-anak ini memang sudah terbiasa dengan merek-merek yang nyebutnya saja orang-orang masih suka salah, saya curiga mereka (anak-anak beruntung born with silver pacifier) bahkan tidak tahu kalo tas dengan merek-merek tersebut biasa di jual bertumpuk-tumpuk di lantai dasar di mangga dua. Tapi, kalo saya bilang kemajuan daya beli masyarakat Indonesia itu maju mah beneran. Maju betulllll cyin. Apalagi semakin saya beranjak dewasa, mulai centil, dan sadar merek, saya pun semakin jiper melihat bahwa orang-orang daya saing nya kencang betul. dari ujung rambut sampai ujung kaki tertata cantik apik dan branded. Kalau berbicara begini sepertinya saya adalah budak merek ya, tapi sumpah, saya bukan budak merek. Saya puas dengan kemampuan saya dan barang-barang yang saya punya. Tapi bukan berarti saya tidak mau tas-tas lucu itu :)
Nah, lain ceritanya kalau yang sering saya papasan di mall-mall ato dimanapun itu ternyata adalah knock-off. Hmmm, agak sedih juga sih kalau membayangkan ya apa daya beli Indonesia ya memang segitu, dan kita pun memaksakan diri untuk terlihat wow dengan barang-barang yang aspal. Yang lebih lucu lagi, saya pernah jalan dengan salah seorang teman SMA saya ke suatu mall di Jakarta, dan dia melihat Global store Louisse Vuitton, dan coba tebak apa yang dia tanya ke saya "itu LV yang dijual asli ya nad? itu toko asli?" saya pun agak bengong sesaat, dan menjawab "yaiyalah" dan dalam hati saya melanjutkan .. Halloo.. Ya apa selama ini memang ada orang-orang yang tidak mengerti kalau merek-merek ITC tersebut dibuat berdasarkan yang merek asli? Ada lhoo guys barang aslinya. Ada juga teman SMA saya yang ke Jakarta khusus untuk ke mangga dua dan kembali ke Pontianak dengan jumawanya karena berhasil membeli tas-tas "lucu tp aspal" sekoper. Saya tidak bilang itu jelek, yang menggunakan barang-barang KW ini banyak kok yang tetep terlihat cool :), bahkan lebih terlihat cool dari saya yang seadanya dengan tas "not high end enough". Tapi ya saya yakin, kalau orang menggunakan produk tertentu pasti untuk kepuasan. Baik itu kepuasan dirinya, maupun kepuasan orang lain. Ada yang mengunakan tas kw tersebut biar terlihat wow oleh sekitarnya, ada yang menggunakan karena memang cuek dan untuk kepuasan pribadinya, ada juga yang murni tidak tahu dan memakai tas tersebut tanpa perduli merek apa dan asli atau tidaknya. Nah, kalau saya, menggunakan yang palsu itu rasanya hampir sama seperti membohongi diri sendiri, dan saya tidak nyaman dengan itu, jadi sampai sekarang saya belum pernah mencoba membeli tas merek kw ini. ya tapi begitulah, kembali lagi ke pilihan situ. Kalau saya sih cukup puas dengan barang-barang saya yang murah meriah, tapi tetap asli dan kualitas terjamin, atau akan lebih bagus lagi kalau menggunakan produk-produk buatan Indonesia asli yang sekarang udah kualitas import. Tidak kalah keren, memajukan produk Indonesia, dan bahkan bisa meningkatkan devisa negara. how cool is that?! Selain itu, saya juga pernah bilang di some thought on shopping bahwwa kadang-kadang, beli barang yang murah itu kadang-kadang mengurangi bentuk penghargaan kita ke barang tersebut, apalagi kalo dibandingkan dengan barang yang cukup mahal. Pasti akan lebih kita sayang rawat, dan jaga. Ya ga seeeehhhh?
Yang jelas, suatu saat. Ya, suatu saat. Saya akan mencapai suatu titik dimana saya mampu membeli tas-tas kece itu. Tunggu aku ya Hermes, Celine, Yves Saint Laurent, Chloe, dll dll
Nah, lain ceritanya kalau yang sering saya papasan di mall-mall ato dimanapun itu ternyata adalah knock-off. Hmmm, agak sedih juga sih kalau membayangkan ya apa daya beli Indonesia ya memang segitu, dan kita pun memaksakan diri untuk terlihat wow dengan barang-barang yang aspal. Yang lebih lucu lagi, saya pernah jalan dengan salah seorang teman SMA saya ke suatu mall di Jakarta, dan dia melihat Global store Louisse Vuitton, dan coba tebak apa yang dia tanya ke saya "itu LV yang dijual asli ya nad? itu toko asli?" saya pun agak bengong sesaat, dan menjawab "yaiyalah" dan dalam hati saya melanjutkan .. Halloo.. Ya apa selama ini memang ada orang-orang yang tidak mengerti kalau merek-merek ITC tersebut dibuat berdasarkan yang merek asli? Ada lhoo guys barang aslinya. Ada juga teman SMA saya yang ke Jakarta khusus untuk ke mangga dua dan kembali ke Pontianak dengan jumawanya karena berhasil membeli tas-tas "lucu tp aspal" sekoper. Saya tidak bilang itu jelek, yang menggunakan barang-barang KW ini banyak kok yang tetep terlihat cool :), bahkan lebih terlihat cool dari saya yang seadanya dengan tas "not high end enough". Tapi ya saya yakin, kalau orang menggunakan produk tertentu pasti untuk kepuasan. Baik itu kepuasan dirinya, maupun kepuasan orang lain. Ada yang mengunakan tas kw tersebut biar terlihat wow oleh sekitarnya, ada yang menggunakan karena memang cuek dan untuk kepuasan pribadinya, ada juga yang murni tidak tahu dan memakai tas tersebut tanpa perduli merek apa dan asli atau tidaknya. Nah, kalau saya, menggunakan yang palsu itu rasanya hampir sama seperti membohongi diri sendiri, dan saya tidak nyaman dengan itu, jadi sampai sekarang saya belum pernah mencoba membeli tas merek kw ini. ya tapi begitulah, kembali lagi ke pilihan situ. Kalau saya sih cukup puas dengan barang-barang saya yang murah meriah, tapi tetap asli dan kualitas terjamin, atau akan lebih bagus lagi kalau menggunakan produk-produk buatan Indonesia asli yang sekarang udah kualitas import. Tidak kalah keren, memajukan produk Indonesia, dan bahkan bisa meningkatkan devisa negara. how cool is that?! Selain itu, saya juga pernah bilang di some thought on shopping bahwwa kadang-kadang, beli barang yang murah itu kadang-kadang mengurangi bentuk penghargaan kita ke barang tersebut, apalagi kalo dibandingkan dengan barang yang cukup mahal. Pasti akan lebih kita sayang rawat, dan jaga. Ya ga seeeehhhh?
Yang jelas, suatu saat. Ya, suatu saat. Saya akan mencapai suatu titik dimana saya mampu membeli tas-tas kece itu. Tunggu aku ya Hermes, Celine, Yves Saint Laurent, Chloe, dll dll
Wednesday, August 24, 2011
alay
a.l.a.y
dihh, masih aja ya hari gini baru ngebahas tentang alay.. kmana aja cyin kemaren-kemaren??! heheh, saya juga bingung kenapa baru ngebahas fenomena alay ini sekarang. Mungkin kemaren saya masih terfokus jadi hipster kali yeee.. ikut-ikutan orang-orang keren dan kece, beli ini beli itu biar bisa dibilang asik.. Baru sekarang deh matanya kebuka dan nulis tentang anak layangan alias alay.. Sebenernya sih karena saya yang cukup telat ngangkat topik ini, saya rasa orang-orang udah ga asing dengan istilah alay yaa, ga ada lagi deh yang perlu dijelasin. Mungkin tauan situ daripada saya. Tapi, entah kenapa ya, saya kalau dengar orang ngatain orang lain alay itu rasanya ga suka aja bawaannya.
"Alay deh lo.."
"Baju lo ga banget deh, man... alay"
"alay gilak"
"lo 4l4y dehh broh"
Entah kenapa ya, bagi saya, orang yang ngatain orang lain dengan sebutan alay itu noraknya adalah absolut. apalagi kalau udah sampe ngatain alay menggunakan empat l empat y tadi. Man... i dont like those people. Selain ngatain orang lain alay. Saya juga paling ngga suka dengan orang-orang yang suka membuat list-list kategori alay dan di share di jejaring sosial.. kenapa sih mereka melakukan itu? apa mereka tidak punya kerjaan lain selain memantau aktifitas-aktifitas orang yang menurut mereka alay, mencatatnya satu persatu, memberi contoh pada masing-masing ciri, dan mengirimkannya ke semua teman-teman mereka dengan embel-embel "apakah kamu termasuk dengan ciri-ciri diatas?" dude seriously get a life.
Pernah suatu siang saat primetime buat acara-acara musik live di tv, ada satu presenter yang ngomong "dihhh norak banget deh lo dasar alay" saya cuma bisa bengong nontonnya. Dia presenter. acara musik. di tv. live. kok bisa-bisanya dia ngatain begitu, padahal dia butuh mereka biar acaranya rame. Aneh ga sih? apa gue nya yang aneh mikir ke sono?!
Sebenernya apa salahnya sih orang mencoba mainstream mengikuti perkembangan jaman? Semua trend yang ada sekarang ini kan sebenernya kan emang diarahkan untuk menjadi seperti ini, ada orang-orang tertentu yang menyuapi kaum yang dibilang alay ini untuk menjadi alay. cekokin terus dengan acara-acara musik dari pagi hingga pagi. Bahkan mereka diberi uang untuk tampil heboh dan nari-nari di panggung. Trus masih bisa-bisanya dicela. Saya sih bukan membela.. tapi saya merasa, seperti hal nya ga baik ngatain orang yang lagi asik sendiri maenin hape dibilang "autis", saya juga ga rela ngatain orang norak dengan sebutan "alay". Biarlah alay bebas dengan dunianya, bebas berkreasi, siapa tahu suatu saat ada inspirasi yang datang dari kaum alay. Seperti halnya orang diluar sana yang punya istilah "hipster", menurut saya hipster ga jauh beda sama alay, yang membedakan adalah kemana mereka berkiblat.. Kalau yang menjadi panutan yah yang macam-macam begitu juga ya emang gitu-gitu aja dong dunianya.. tapi ya janganlah menjadikan alay ini seolah-olah adalah momok..
Ibarat kata gini nih.. dengan kita ngata-ngatain suatu hal dengan kata alay, maka kata alay itu sendiri akan mengalami penurunan nilai (saya lupa istilahnya apa di bahasa indonesia). segala hal yang norak akan dikatakan alay. padahal norak adalah norak. dan alay adalah alay. Norak dan alay merupakan dua kata yang memang sering bersama, tapi jangan lah kiranya kita samakan. Biar saja mereka punya definisi-definisi masing-masing yang berbeda satu sama lain. Biar bahasa Indonesia yang minim kata jadi lebih beragam.. Lagipula seperti yang sudah saya katakan tadi, janganlah mengidentikan mereka dengan norak, karena bagaimanapun, dulu juga kalian melakukan hal yang sama kan.. coba diingat-ingat bagaimana profile friendster kalian dulu.. apa tidak tersentuh ke alayan? jadi anggap saja alay merupakan suatu ketertinggalan. bunga yang belum berkembang.
Lagipula, emang keberadaan alay ganggu ya? soalnya ada beberapa postingan-postingan tentang keberadaan alay yang seolah-olah gengges abis dan nulisnya dengan penuh emosi. Sebenernya ada masalah apa? coba sini cerita.. ga suka dengan gaya sms nya? ya ga usah smsan.. ga suka gaya pakeannya yang cenderung norak? jangan nongkrong bareng ato kasi masukan dong biar kece kayak situ.. Lah ini saya baca seolah-olah enek banget liat gaya fotonya, jenis hapenya, baju-bajunya,.. ini yang salah gaul siapa, situnya kali yee.. saya rasa bukan si kaum alay ini.. Karena berdasarkan acara "warna" di salah satu tv swasta yang meliput tentang alay, mereka fun-fun aja tuh.. tau kalo diri mereka dibilang alay, tapi mereka fine.. Kok yang repot malah orang-orang yang ngeliat ya.. capek + bingung ga sih?!
Udahan ah..
toodles alayers xxo
words
You say that you love rain
but you open your umbrella when it rains
You say that you love the sun
but you fund a shadow spot when the sun shines
You say that you love the wind
but you close your windows when the wind blows
Thats why, I am afraid
you say that you love me too.
-William Shakespear
Tuesday, August 23, 2011
thought of friendship
Hai..
Baru-baru ini saya ditanyain seseorang mengenai suatu hal yang jawabannya ga habis-habisnya saya pikirin sepanjang perjalanan dari kantor ke rumah (fyi, it took 1.5 hours of driving), dan hampir sepanjang malem sampai saya ke distract nonton ovj.. Pertanyaanya cukup simple.. "siapa sih sahabat lo nad?" Biasanya, dengan lantang saya akan menyebutkan beberapa nama yang menurut saya cukup dekat.. deket banget bahkan, sampai hampir semua tentang saya mereka tahu. Saya ada masalah apa saya pasti cerita sama mereka, walaupun biasanya cerita-cerita dilematis tentang percintaan, tapi saya cerita dan mereka otomatis memberikan masukan-masukan yang menurut saya positif. Ya mereka sahabat saya. Tapi pertanyaan selanjutnya adalah "yakin?", ketika ditanya begini saya terdiam. Yakinkah saya?. Terus terang, saya bukan orang yang bisa santai ketemu orang baru, dan bisa ceret cerita apa saja.. saya orangnya penuh ke jaim an. Hanya kepada orang-orang yang sudah saya anggap dekat dan bisa menerima saya apa adanya saya bisa cuek cerita apa saja, bertingkah apa saja, menunjukan kebodohan-kebodohan saya, menunjukan ketidaktahuan saya, ketawa lepas, jungkir balik dan hal-hal semacam itu. Bahkan sama orang tertentu yang saya anggap sahabat saya kadang-kadang saya masih tidak bisa santai. Kecanggungan saya membuat saya tidak pernah nyaman untuk berdua dengan orang lain, harus ada orang ketiga untuk menghindari awkward moment. Dan hanya beberapa orang saja yang saya bisa nyaman walau hanya berdua (termasuk pacar saya ya..)
Lalu apa yang membuat saya bingung dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai sahabat ini? saya bingung, karena apakah yang saya rasakan sama dengan yang mereka rasakan? apakah mereka yang saya anggap adalah sahabat saya juga menganggap saya sahabat dari mereka? betul kami rutin berkumpul, betul kami punya grup di massenger smartphone kami, foto-foto dengan mereka yang mendominasi di seluruh jejaring sosial. tapi apa itu yang namanya persahabatan? Apa saya masih sahabat mereka kalo saya tidak ikut itu semua.. Pertanyaan ultimate nya adalah: Apa mereka akan merasa kehilangan kalau saya menghilang?
Kemudian, saya menguatkan hati saya, dan menanamkan kalau saya yakin mereka menyayangi saya dan tentu saja menganggap saya sahabat. Tapi, kembali saya berpikir, apa mereka menganggap saya sahabat mereka juga? ketika mereka tidak memiliki masalah dalam berkomunikasi dengan orang lain seperti saya, pastilah mereka punya lebih banyak teman dan kandidat-kandidat sahabat. Apa mereka tetap menganggap saya sahabat jika intensitas komunikasi dengan kandidat-kandidat sahabat lebih sering dengan saya? ketakutan-ketakutan akan kehilangan teman terus mengusik saya. hahh.. kenapa saya jadi mellow-mellow norak begini ya.. truth be said saya orang yang ga pernah masalah untuk sendirian. kemana-mana sendirian saya tidak pernah masalah. tugas-tugas saya kerjakan sendirian. Dan ketika saya mulai tidak nyaman, saya pulang. save and sound. selesai. the end. fin.
Sebenernya mau mengarah kemana sih babbling saya kali ini? hmm.. i dont even know. perlahan-lahan saya merasa menjauh dari beberapa orang sahabat saya, dan mereka lebih nyaman dengan orang-orang baru. Tapi saya tahu sih, people move on. they are move on. I move on. saya yang kadang kesulitan di tempat yang baru juga menemui orang-orang baru. calon-calon sahabat baru.. tapi saya tahu kalo saya haru belajar banyak untuk mengubah kecenderungan saya yang canggung di lingkungan baru, dan saya harus tetap keep in touch dengan teman-teman lama saya, bahwa bagaimanapun saya harus menyesuaikan diri. keep with the old, struggle with the new.
ngemeng apa sih gue..
toodles, xxo.
Sebenernya mau mengarah kemana sih babbling saya kali ini? hmm.. i dont even know. perlahan-lahan saya merasa menjauh dari beberapa orang sahabat saya, dan mereka lebih nyaman dengan orang-orang baru. Tapi saya tahu sih, people move on. they are move on. I move on. saya yang kadang kesulitan di tempat yang baru juga menemui orang-orang baru. calon-calon sahabat baru.. tapi saya tahu kalo saya haru belajar banyak untuk mengubah kecenderungan saya yang canggung di lingkungan baru, dan saya harus tetap keep in touch dengan teman-teman lama saya, bahwa bagaimanapun saya harus menyesuaikan diri. keep with the old, struggle with the new.
ngemeng apa sih gue..
toodles, xxo.
Wednesday, August 10, 2011
babble of mine
Postingan kali ini, saya dedikasikan secara khusus untuk teman-teman rekan sekerja dan seperjuangan saya yang sedang berkutat dengan tugas-tugas orientasi sebagai calon pegawai negeri sipil di salah satu instansi pemerintahan (mohon maaf sebelumnya, perihal nama instansinya tidak akan saya sebutkan disini, rasanya tidak etis. Mohon pengertiannya ya guys). Tulisan ini saya dedikasikan untuk kalian murni sekedar menghibur, itupun kalo berhasil, kalo tidak mohon dimaafkan. Maklum, orang baru.
Saya sebenernya tidak tau rekan-rekan seperjuangan ini akan baca atau tidak, tapi kalo kalian iseng googling googling peraturan ato apapun buat ngisi waktu kalian yang saya yakin banyakan gabutnya daripada kerjanya, ato ngapain aja yang berkaitan dengan om google terus secara ga sengaja memasukkan keyword-keyword yang berhubungan dengan tugas orientasi kayak konsolidasi, tanah terlantar, tanah kritis, dan lain-lain, ada kemungkinan kalian akan menemukan page saya ini.. -silahkan ditutup dari sekarang kalo kalian sudah mulai bosan, tapi saya yakin pasti ada yang penasaran dan akan melanjutkan untuk membaca.. monggo- Hal ini sudah saya cross check. Postingan saya yang sebelum ini memuat kata-kata yang saya sebutkan diatas, terus saya iseng-iseng google dengan keyword tersebut, eh keluar aja lho page saya. Karena panik dan merasa belum siap untuk dibaca publik dan komunitas yang saya kenal, buru-buru saya delete post tersebut. Maaf saya memang casingnya aja yang sepertinya cool, tapi seriusan deh, saya cupu. Tapi Kali ini, postingan yang ini, saya siap.
Mungkin diantara kalian, ada yang belum mengenal saya. Kalo melihat saya, saya yakin rekan-rekan sudah sering. Mengetahui nama saya, mungkin. tapi kenal? Belum tenchu. It takes two to know someone. Mari kita berkenalan.. Jangan takut jangan kuatir, saya orangnya ramah kok, boleh ditanya ke teman-teman kelompok saya di kelompok 14. justru kalau sudah merasa cukup dekat saya berani untuk jutek. Artinya kalo saya sudah berani galak-galak, berarti saya sudah merasa cukup dekat, and its a good thing. :).
Saya rasa, sudah menjadi rahasia umum perihal hubungan asmara saya dengan salah satu rekan sesama cpns, tapi kalo ada yang belum tahu, bisa diliat kok di postingan2 sebelum ini wong saya ada ngepost foto kami berdua kok.. Santai sih, its no gossip anymore yo, we're official.
Sebenarnya apa sih tujuan postingan saya ini? Kenapa saya ngalor ngidul tidak jelas? Saya juga ga tau.. Saya hanya mendapatkan inspirasi untuk menulis dan saya coba tuangkan secara apik. dibaca sukur, tidak di baca sudah biasa. -sudah mulai bosan kahh?-
Hmm.. Bagi rekan-rekan yang kenal saya, saya rasa anda tidak mungkin menutup blog ini hanya dengan membaca postigan ini. Pasti diantara kalian ada yang penasaran dan kemudian melanjutkan membaca ke post-post lain.. Disclaimer: saya ini seorang hipster yang kebawa arus mainstream dunia blogging, dan yang selama ini dibutakan kelap-kelip gemerlap high fashion dan segala hal yang fancy-fancy. Walaupun saya akuin, i sometimes cant afford that, baik ngikutin diaplikasikan ke kehidupan saya, atau pun menuangkan ide-ide high fashion keren tadi kedalam tulisan. Tapi saya yakin, ada hal-hal yang berkembang dari saya dengan usaha-usaha saya itu untuk mengikuti dunia bling-bling dan menuangkannya ke dalam bentuk blog. Kemampuan saya menulis mungkin. Sedikit demi sedikit, namun pasti ada kemampuan yang semakin terasah. Pemilihan dalam berpakaian yang semakin selektif juga pasti merupakan hasil dari kegiatan saya ini. Dan saya yakin, keinginan yang keras untuk diet juga pasti bersumber dari kasak kusuk saya membuka-buka blog fashion dan street style (walau keinginan keras ini tidak diikuti dengan tindakan yang keras juga, tak mengapa. Setidaknya rasa itu sudah ada). Oh iya, dari hobi stalking para blogger-blogger keren ini, saya jadi terinspirasi untuk mencoba hal-hal baru, ke tempat-tempat yang baru, took a photograph, dan belajar menulis.
Saya semakin ngawur saja sepertinya.. mungkin saya sudah harus kembali ke pekerjaan awal saya yang semestinya saya lakukan: membuat tulisan ilmiah perihal pemberdayaan masyarakat tani penerima tanah cadangan umum negara (if you happen to googled with these keyword hoping to find an article about that particular idea, and you found this page instead, please consider yourself lucky enough).
terimakasih sudah menyediakan waktunya.
toodles.xxo
Subscribe to:
Posts (Atom)

