Wednesday, December 7, 2011

It's not racist, It's marriage

Disclaimer: still, this post might be a little bit racist


People says, women has a quarter life syndrome. well, mine begin at 23.
Datang ke beberapa acara pernikahan dalam beberapa hari terakhir, merupakan rambu-rambu peringatan yang sedikit menampar saya, lampu kuning yang menyuruh saya untuk mulai berhati-hati. Membuat saya mau ga mau harus berpikir tentang masa depan saya. Bukannya saya ignorance akan hal ini, tapi saya belum memikirkan hal yang menurut saya masih terlalu abu-abu untuk dibicarakan. Umur saya saja belum seperempat abad. Sampai kemarin, pernikahan adalah hal nomer kesekian dalam rencana jangka panjang saya, berada pada posisi persis dibawah beasiswa S2, rencana jenjang karir, dan investasi tidak bergerak (okey saya mulai delusional, tapi serius lho ini).

Sampai kemarin, saya tidak pernah memikirkan untuk settling down, dan masih ingin bersenang-senang, yang mana merupakan salah satu alasan yang mengakibatkan saya memutuskan hubungan saya dengan pacar 'serius' saya kemarin. Ya, rumah tangga merupakan hal yang terlalu menakutkan buat saya. Tetapi, menghadiri pernikahan mau tidak mau mengingatkan saya bahwa saya harus mulai serius memikirkan hal itu. Terutama mengingat standar-standar yang saya cari dari seorang calon pendamping cukup sulit. Banyak yang tereliminasi.

Saya bukan perempuan yang muluk dalam mencari pasangan, bahkan cenderung klise.. Tapi bagaimanapun standar yang diberikan orang tua mempengaruhi standar saya. Ini lebih ke pemaksaan sih, walaupun saya tidak pernah memberontak dan memaksakan kehendak saya. Untuk urusan yang satu ini, saya lebih memilih untuk mengikuti keinginan orang tua saya. Ya begini kira-kira urutan dalam kriteria saya memilih pasangan:
Standar utama
1. Kristen (masuk akal)
2. Batak (mulai sedikit rasis)
3. Batak toba (arrgghh!!)
4. Syarat-syarat tambahan, semacem baik, sayang, mau bekerja keras, pintar, rupawan, dan lain-lain merupakan syarat tambahan yang hanya akan dilihat apabila ketiga syarat sebelumnya sudah terpenuhi.

Sebenarnya saya tidak merasa terbebani dengan prasyarat yang diberikan oleh orang tua saya, karena saya sendiri sebenarnya tergolong fascinated by the beauty of batak tradition, especially when it comes to the bonding of the family (which i bet every other culture also has their own version). Tetapi yang menjengkelkan adalah saya belum menemukan seseorang yang tepat. itu dia poin permasalahannya. Mungkin ini memang hanya efek dari rentetan perkawinan yang saya hadiri, dan seharusnya saya tidak membiarkan ini membiasi planning-planning yang sudah saya buat.


Funfact #3 Call me cheesy call me cheap, for want somebody to sleep with. :p :p


No comments:

Post a Comment

Disclaimer: I don't own any pictures on this site unless otherwise stated. I get most of them from miscellaneous sites. if it yours and you want it down, do tell.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...