Thursday, December 8, 2011

Christmas


Some people might says that Christmas is a product if capitalism. And people who celebrates it are joining in a big commercialism of Christianity to support the advance growth of capitalism. 
And I have to agree with those prior statements. heavyheartedly. Christmas now is more related to Santa Claus, gifts, Christmas tree, and the Party, then to the Christ's born itself. Not mean to be a judge-y, but somehow its kinda sad. Not wrong, but sad. Christmas is suppose to be celebrate with a joy and laughter, and trust me, I know maybe capitalism may support the joy and the laughter, but dont sacrifice your faith into a loop that drag you away from the true meaning of Christmas. 

And, for similar reason, I am a picky when it comes to Christmas song, for some carols are just picturing a consumerism-unspirited Christmas. hence: Santa Baby, ekkkk. truth be told that I love every christmas song, but for me not every song is Christmas-related and suitable for celebrating the season. Thats why, my playlist for Christmas is quite a few.





So, in my very humble opinion, don't lose yourself in Christmass' euphoria. And let me say:

Merry Christmas
Have yourself a merry little Christmas and be thankful

Wednesday, December 7, 2011

It's not racist, It's marriage

Disclaimer: still, this post might be a little bit racist


People says, women has a quarter life syndrome. well, mine begin at 23.
Datang ke beberapa acara pernikahan dalam beberapa hari terakhir, merupakan rambu-rambu peringatan yang sedikit menampar saya, lampu kuning yang menyuruh saya untuk mulai berhati-hati. Membuat saya mau ga mau harus berpikir tentang masa depan saya. Bukannya saya ignorance akan hal ini, tapi saya belum memikirkan hal yang menurut saya masih terlalu abu-abu untuk dibicarakan. Umur saya saja belum seperempat abad. Sampai kemarin, pernikahan adalah hal nomer kesekian dalam rencana jangka panjang saya, berada pada posisi persis dibawah beasiswa S2, rencana jenjang karir, dan investasi tidak bergerak (okey saya mulai delusional, tapi serius lho ini).

Sampai kemarin, saya tidak pernah memikirkan untuk settling down, dan masih ingin bersenang-senang, yang mana merupakan salah satu alasan yang mengakibatkan saya memutuskan hubungan saya dengan pacar 'serius' saya kemarin. Ya, rumah tangga merupakan hal yang terlalu menakutkan buat saya. Tetapi, menghadiri pernikahan mau tidak mau mengingatkan saya bahwa saya harus mulai serius memikirkan hal itu. Terutama mengingat standar-standar yang saya cari dari seorang calon pendamping cukup sulit. Banyak yang tereliminasi.

Saya bukan perempuan yang muluk dalam mencari pasangan, bahkan cenderung klise.. Tapi bagaimanapun standar yang diberikan orang tua mempengaruhi standar saya. Ini lebih ke pemaksaan sih, walaupun saya tidak pernah memberontak dan memaksakan kehendak saya. Untuk urusan yang satu ini, saya lebih memilih untuk mengikuti keinginan orang tua saya. Ya begini kira-kira urutan dalam kriteria saya memilih pasangan:
Standar utama
1. Kristen (masuk akal)
2. Batak (mulai sedikit rasis)
3. Batak toba (arrgghh!!)
4. Syarat-syarat tambahan, semacem baik, sayang, mau bekerja keras, pintar, rupawan, dan lain-lain merupakan syarat tambahan yang hanya akan dilihat apabila ketiga syarat sebelumnya sudah terpenuhi.

Sebenarnya saya tidak merasa terbebani dengan prasyarat yang diberikan oleh orang tua saya, karena saya sendiri sebenarnya tergolong fascinated by the beauty of batak tradition, especially when it comes to the bonding of the family (which i bet every other culture also has their own version). Tetapi yang menjengkelkan adalah saya belum menemukan seseorang yang tepat. itu dia poin permasalahannya. Mungkin ini memang hanya efek dari rentetan perkawinan yang saya hadiri, dan seharusnya saya tidak membiarkan ini membiasi planning-planning yang sudah saya buat.


Funfact #3 Call me cheesy call me cheap, for want somebody to sleep with. :p :p


Friday, December 2, 2011

Bring it on, December!

Funfact #2 I just found out my phobia: RATS (dan konco-konconya)

People says, December is a 'friday' of the months
Desember seharusnya merupakan bulan baik. Iya, baiknya menutup segala sesuatunya dengan yang manis-manis, jadi kita bisa mengawali tahun yang baru dengan langkah tegap dan muka penuh kesiapan menghadapi apapun itu yang menunggu kita di tahun berikutnya. Ya, desember sebagai bulan penutup, ditambah lagi dengan natal yang semakin dekat harusnya menyenangkan. Sebenarnya saya yakin, natal kali ini pasti tetap manis. Full of joy and laughter and happiness and bla bla bla bla. Setidaknya kira-kira begitu kata-kata yang ada di kartu ucapan, dan saya percaya.

Tetapi, harapan memang seringnya sleg dengan kenyataan, bulan Desember bagi saya selalu menjadi bulan yang penuh  dengan cobaan. Selalu.  Saya ingat betul tahun lalu di bulan Desember saya banyak menangis -yang kalau saya ingat lagi untuk hal yang sangat sangat memalukan dan sepele- tapi, entah kenapa, di bulan yang sama, di bulan yang seharusnya menyenangkan, lagi-lagi saya ingin menangis. Ingin menangis. Penekanan dibutuhkan disini karena saya belum menangis, ingin tetapi tidak bisa. Padahal, hari ini barulah hari kedua di bulan Desember, tetapi entah kenapa semuanya seperti mengarah ke jalan yang gelap. Banyak hal yang seakan-akan mencobai saya, hmm.. lebih tepatnya, meninggalkan saya. ya, banyak hal yang sepertinya ingin meninggalkan saya. Seseorang Sesuatu.. well, i dont know

Saat-saat semacem ini, dimana hati lagi memegang kendali, saya butuh berpikir waras. Tetapi bodohnya, bukan distraction yang saya cari, saya malah melangkah semakin jauh ke dalam galau*.. Kemana-mana sendirian, mengunci diri di kamar, dan lain-lain semacamnya. Saya memang bukan pembaca buku-buku selfhelp atau selfmotivating dan sejenisnya, tetapi saya cukup sadar kalau sikap saya yang seperti ini malah membuat jarak antara saya dengan segala hal yang saya takuti akan meninggalkan saya malah semakin jauh. Tapi, lagi-lagi seperti yang saya bilang, hati sedang memegang kendali. Dan menarik saya semakin jauh, entah kemana. 

Desember seharusnya menjadi bulan yang manis. Natal untuk semua. Tetapi, kenapa Desember harus diawali dengan segala yang pahit? bahwa sepertinya saya harus menjalani semuanya sendirian? bahwa saya akan kehilangan?

Lagi-lagi pemikiran bodoh..

*galau. Hmm entah kenapa saya mulai kurang suka menggunakan kata ini.

ps. Saya benar-benar baru menemukan ketakutan yang teramat sangat terhadap tikus dan konco pengerat lainnya. Hal ini saya sadari ketika saya sedang menulis post ini dan merasakan ada sekelebat bayangan yang berjalan di samping kanan saya dan ternyata tikus yang kecil  yang tidak ada lucu-lucunya sama sekali. Seketika itu juga saya terpaksa menerima fakta bahwa ada tikus di kamar saya! ya di kamar sodara-sodara!! betul-betul menambah kenyataan bahwa desember adalah bulan yang penuh cobaan. Dan ketika itu juga, ketika saya harus berhadapan dengan makhluk yang satu itu, saya betul-betul gemetar, lemas, dan susah bernapas. and cried several times calling for mom out loud which doesnt help cause my mom is nowhere near me. --> setidaknya makhluk kecil itu mampu mendistrek saya dari kamu-kamu yang menyebalkan.

Wednesday, November 30, 2011

Melipir untuk Berpikir

Funfact #1 bagi saya toffee nut latte adalah minuman mahal paling kampung yang paling enak.  

Sendiri duduk di salah satu pojok coffee shop (yeah.. starbucks) bukan merupakan hobi atau rutinitas saya, tapi sebagai loner sejati, saya menikmati aktivitas saya yang satu ini. Aktivitas yang semakin sering saya lakukan dalam rangka starbucks christmas tradition untuk mengumpulkan sticker sampai 25 sticker untuk mendapatkan Planner 2011. (Okay i know, this is way too geek).


Sebenarnya saya berada di tempat ini saat ini karena saya merasa otak saya sedang tidak mampu diajak multitasking, dimana saya harus menyetir, mengambil keputusan teramat besar, browsing di internet, dan berbicara dengan orangtua saya di telfon. Yaa, siapapun juga saya rasa tidak mampu. Jadi, saya pun belok ke starbucks terdekat untuk melakukan semua yang harus saya lakukan. so here i am, with my favorite bev,  and sit nicely in the corner,.

Saya mulai meminum minuman kesayangan saya ketika saya membuka laptop saya, online, dan mulai menghubungi orang tua saya. Ya, saya sedang berada dalam posisi yang sulit, yang membutuhkan pertimbangan-pertimbangan lain di luar diri saya. Kalut. 

Saya meminum kembali minuman dingin dihadapan saya.. Jadi maka dari itu saya tadi memutuskan untuk melipir ke starbucks untuk berpikir mengenai keputusan yang akan saya ambil, melakukan perbandingan pros dan cons, menelfon orang tua saya, browsing untuk melakukan perbandingan, dll dll hingga akhirnya saya memutuskan, adalah hal yang terlalu gegabah untuk mengikatkan diri saya dalam suatu  perjanjian jual beli. Ya, saya mundur. Bye bye investasi. 

Minum saya belum setengah saya minum ketika saya berpikir bahwa ternyata, manusia itu memang harus memikirkan masak-masak segala keputusan yang akan dia ambil. Memang kadang-kadang dalam mengambil suatu keputusan manusia butuh tutup mata, tutup telinga, secuil kenekatan dan langkah tegak yang spontan. Dan memang segala keputusan yang manusia ambil, baik itu keputusan kecil yang sepertinya remeh temeh sesimpel belok ke kanan atau pun kekiri (sesimpel memutuskan untuk melipir dan berfikir seperti sekarang), maupun keputusan besar yang sifatnya lifetime, setiap keputusan manusia apapun itu sama-sama dapat mengubah hidup seorang maupun banyak manusia. Sebenarnya saya tidak pernah  mengkategorikan diri saya sebagai manusia spontan, saya juga bukan orang yang selalu memikirkan apa yang saya lakukan. Biasanya, dalam mengambil suatu keputusan apabila itu mendesak, saya akan mengambil keputusan dalam keadaan gegabah, panik, dan tanpa berpikir panjang. Seperti halnya hari ini dimana saya berada dalam keadaan mendesak yang hampir membuat saya mengambil keputusan jangka panjang.. to lease an apartment! Seperti yang saya sudah ungkit diatas, saya yakin membeli sebuah apartment bukan merupakan hal yang salah, dimana hal tersebut merupakan investasi jangka panjang yang sebagai rakyat golongan menengah, kita harus menjadi golongan yang kuat dan mampu dengan memikirkan investasi jangka panjang, dan salah satu bentuknya adalah harus mampu memiliki tempat tinggal sendiri (well yeah, saya sedang membaca Ligwina Hananto's book Untuk Indonesia yang Kuat: 100 Cara untuk Tidak Miskin, and this book pretty much fascinate me in many ways). Tetapi, tanpa berpikir panjang, hampir saja saya mengikat beli sebuah apartment di bilangan kebayoran lama, tanpa berpikir mengenai cicilan, bunga, lokasi, lantai, view, dll dll. terdengar horor bukan? thus, after contemplating everything: I canceled the deal.

Minum saya sudah hampir habis ketika saya menyadari bahwa saya tidak menyesal dalam keputusan yang saya ambil sekarang ini. Saya sudah melipir untuk berpikir (i love it when it rhymes) dengan segala pertimbangan-pertimbangan yang ada. Selain itu karena memang saya akui ada hal yang janggal dalam diri saya apabila saya terburu-buru mengambil keputusan seperti tadi. Ya, mungkin yang dibutuhkan dalam mengambil keputusan hanyalah kemantapan hati. Baik keputusan besar yang berarti di kehidupan kita, keputusan kecil yang remeh temeh, keputusan spontan, maupun keputusan yang penuh dengan pertimbangan, satu hal yang paling penting dan menjadi panduan kita dalam melangkah hanya lah kemantapan hati, membuat segala rintangan seakan tak berarti (again, I love it when it rhymes :) )

Sunday, November 20, 2011

Matahari dan Bulan

Kamu bilang kamu mencintai matahari, Tetapi kamu berselingkuh dengan sang bulan
Kamu Bermain-main dengan matahari, lalu kamu tidur dipangkuan rembulan
Kamu bilang kamu tidak mampu hidup tanpa keduanya,
Membiarkan mereka berputar-putar, dengan kamu sebagai porosnya.

Kamu bilang kamu hidup dari sang mentari.
Sinarnya, hangatnya, setiap elemennya mengiringi tarian lincah mu.
Kamu senang, kami tahu itu..
Tapi kamu tidak bisa menyembunyikan lelah di balik matamu
Kamu mulai mencari bayang-bayang hitam
untuk bersembunyi menghindar.
"Sinarnya menyilaukan, hangatnya keterlaluan" begitu katamu,
Lalu dibawah bayang hitam kamu mulai menunggu datangnya malam.

Ketika malam datang menggandeng bulan, kamu tersenyum menyambut kedatangannya
Berpendar menggoda rembulan, dengan bujuk rayu khas kamu..

Sang bulan pun membelai lembut wajahmu dengan sinar nya
Lalu kalian bercengkrama bertukar cerita.
Rasa, asa, cinta.
Malam semakin tua dan kalian tetap bersama
Tertidur berdampingan, bergandengan.

Lupakah kamu dengan mentari, ketika rembulan hadir menemani malam-malam mu?

Meski kamu mencintai bulan, kamu tetap menggandeng siang.
Menutup mata bahwa sinar sang bulan takkan mampu menyinari seluk beluk sudut malam mu..
Mendampingi hari-harimu.

Kemudian ketika siang datang lebih terang
menutupi indahnya sang bulan.. Membangunkan kamu dari mimpi-mimpi nyata
Mencambuk kamu dengan fakta
Meninggalkan mu menangis
air mata egois.

Tuesday, November 15, 2011

Kamu, dunia itu kejam ya..

Kamu, saya tau mungkin kamu sedang malas menanggapi cerita saya.. Tapi biarlah, toh saya lagi-lagi hanya ingin bermonolog. Toh kamu juga tidak pernah memberikan masukan-masukan yang berarti, biasanya kamu hanya menanggapi dengan ejekan-ejekan yang kamu tau bisa membuat saya kesal namun sedikit tersenyum. tapi kamu sahabat saya, dan saya sedang butuh kamu untuk menyerap, mendengar ataupun membaca semua keluh kesah saya, dan menanggapi nya dengan ejekan khas kamu yang sebenarnya menyenangkan dan saya butuhkan.

Kamu, dunia itu kejam ya.. Dari seluruh orang yang saya kenal, kamu lah orang yang paling paham ketika saya bilang "dunia itu kejam, namun saya tidak membenci nya". Ya kamu memang sering sekali mengajak saya berbicara tentang hal-hal yang abstrak, dunia dan akhirat, malaikat, setan, kehidupan lain kamu sebagai pohon, dan lain-lain. Sebenarnya, Bukan topik yang menarik buat saya yang lebih suka membahas hal-hal yang sophisticated, gosip, atau isu-isu lain yang lebih nyata. tapi kamu terus meracau membicarakannya. Jadi,ketika saya merasa dunia itu kejam, hal pertama yang saya ingat adalah kamu. dan saya ingin bertukar pikiran tentang ini dengan kamu.

Kamu, dunia itu kejam ya.. Ketika kita sudah menyusun rencana beberapa langkah ke depan, entah bagaimana caranya dunia pasti berusaha menggagalkannya. Langit, darat, air, dan segala isinya dengan segala caranya pasti berusaha menggagalkannya. Dan seperti memberikan efek domino, rencana-rencana yang sudah manusia susun rapih, saling menggagalkan satu sama lain. Ya, yang saya bicarakan bukan hanya rencana-rencana yang sudah saya susun rapih, tetapi hampir semua rencana manusia di dunia ini seringkali digagalkan oleh dunia. Dan kemudian rencana-rencana itu saling menggagalkan satu sama lain. ya, kamu tau tidak, sering sekali saya menyimpan rencana-rencana saya dalam hati karena saya takut apabila saya membicarakannya, dunia akan mendengar dan kemudian kembali berusaha menggagalkan segala sesuatunya.

Kamu, dunia itu kejam ya.. Saya yakin bukan hanya saya yang merasa semacam itu, pasti kamu juga kadang-kadang merasa seperti itu, dan orang lain?! Hahh, jangan ditanya, orang lain saya yakin juga banyak merasakan hal yang serupa, kalau tidak, tingkat kriminalitas di dunia apalagi indonesia tidak akan sesemerbak sekarang. Juga kecenderungan bunuh diri. (please saya sedang tidak ingin membicarakan angka kriminalitas kita, apalagi tentang kecenderungan bunuh diri) tapi Itu pasti karena dunia itu memang kejam. Kamu tidak usah khawatir dengan saya, saya mengakui dunia itu kejam, tapi saya tidak membenci dunia, saya tidak akan dengan bodohnya mengakhiri hidup saya :). Lagi pula, bagi saya dunia itu kejam karena tidak pernah membiarkan saya berjalan sesuai arusnya, ketika saya mencoba berjalan mengikuti arusnya, dunia akan segera berputar arah dan menabrak saya. Ya, saya yang membawa rancangan-rancangan saya, ditabrak secara keras oleh dunia dan rancangannya. Sakit, iya. Sedih, iya. Kamu tau tidak, yang lebih kejamnya lagi, dunia juga tidak membiarkan kita mengkambinghitamkan dunia atas kegagalan kita. Ya, banyak yang bilang kalau hanya si pembohong dan pengecut yang menyalahlan dunia ketika ia gagal. Kamu tau kan, saya bukanlah seorang pembohong yang menyalahkan hal lain ketika saya tidak dapat menyelesaikan seauatu, saya tidak menyalahkan dunia, bagaimana mungkin saya berani menyalahkan dunia, saya takut pada dunia. Dan saya hanya ingin dunia mendukung langkah-langkah saya. Itu saja.

Kamu, dunia itu kejam ya.. Setelah dunia menggagalkan rencana-rencana kita, tidak membiarkan kita menyalahkan dunia, dan kemudian, memberikan efek trauma takut yang luar biasa. Ini salah saya, saya tau. Saya terlalu takut akan kegagalan yang saya ciptakan karena tidak ada koordinasi yang baik antara saya dan dunia.. Koordinasi.. Ya, mungkin itu yang saya butuhkan: koordinasi. Tapi, saya belum ingin membicarakan solusi, karena solusinya dalam masalah-masalah hidup semacam ini saya rasa hanya satu, jangan pernah menyerah dan tetap berusaha berjalan berdampingan dengan dunia. Ya kan, itu yang pernah kamu bilang ke saya, untuk selalu berusaha. Saya sudah paham itu. Saya hanya ingin membahas prosesnya.. Ketika kenapa sering kali dunia seolah-olah menolak dan berusaha menjatuhkan kita..

Kamu, dunia ini kejam ya.. Tapi saya percaya kok kalau kejamnya dunia ini hanya ujian, sebagai proses pendewasaan. Ummm.. Jika kita berpikir semacam ini, sebenarnya dunia rasanya tidak sekejam itu ya.. Bahkan kadang mendukung kita, memberikan yang terbaik dan membentuk kita menjadi orang yang lebih baik. Seperti orangtua yang melarang anaknya ini dan itu, menggagalkan rencana-rencana si anak untuk mengarahkannya ke arah yang lebih baik, mungkin itu yang sedang dilakukan dunia terhadap saya, terhadap kamu. Kamu pasti ingin mengejek saya yang meracau sendiri seperti orang bodoh yang membicarakan masalahnya sendiri dan kemudian menemukan jalan keluarnya sendiri. Bukannya selalu seperti itu? Ketika kamu hanya bisa mendengarkan saya bicara sendiri dari awal sampai selesai kemudian bertanya "ngomong apa sih nad?" dan saya pun bingung sendiri apa yang saya bicarakan daritadi. tapi saya selalu tau kamu memperhatikan omongan saya, dan diam-diam menyelipkan nasihat-nasihat dan bahkan kritik di lain kesempatan.

Iya, kamu tau nggak, ternyata dunia tidak sekejam itu lho.. :) Menyenangkan!

Friday, November 11, 2011

special 11


To celebrate this beautiful date: 11.11.2011 here I present to you 11 things that can make my life a living hell.

1.     No internet access, no cellphone signals, or anything close to disconnected from outside world via gadgets
2.     One disturbed sleep.
3.     Being obliged to wake up extra early (hence number 2)
4.     Having someone sleeping in my bed with day clothes
5.     A Dead air communication
6.     Feeling guilty after said something without thinking.
7.     faking that i know what i’m doing in the dating world because men judge technique more than genuity.
8.     wanting to express so much but not being able to. somedays for ethical reasons, others for fear of being ridiculed, or endless etiquette.
9.     not feeling any desire to work in the past years, but still feeling guilty every time i don’t work.
10. Helpless situation
11. Underestimated by surrounding

What about yours? Give me 11 of anything..

Disclaimer: I don't own any pictures on this site unless otherwise stated. I get most of them from miscellaneous sites. if it yours and you want it down, do tell.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...